Rabu, 15 November 2017

MEMPERLAKUKAN SEKS, SEKSUAL DAN SEKSUALITAS DENGAN SEXUAL INTELLIGENCE


Bijaksana itu adalah memperlakukan segala sesuatu sesuai dengan kecerdasan yang tepat. Termasuk juga menyelesaikan berbagai masalah berdasarkan ilmu yang sesuai. Karena sungguh tidak bijaksana jika memaksakan ilmu dan kecerdasan untuk aktivitas yang tidak sesuai. Setuju gak?
Misalnya saja, mesin mobil bermasalah yang kemudian direparasi oleh seorang dokter dengan menggunakan ilmu kedokteran. Contoh lain pada permainan bola yang membutuhkan skill pemain bola, namun pelatih memutuskan untuk memasukan petinju dalam tim-nya. Ya... berantakan jadinya. Jaka sembung bawa golok, gak nyambung bok.    
Dalam buku Sexual Intelligence – Basic for Relationship Goals, yang baru saja saya selesaikan, saya menyarankan untuk memahami terlebih dahulu tentang seks, seksual dan seksualitas (3S) sebagai tiga hal yang berbeda. 3S juga merupakan tiga aktivitas berbeda dengan tiga goals yang berbeda pula. Sehingga menuntut dasar ilmu dan pemahaman yang sesuai. Karena IQ dan berbagai kecerdasan lainnya bukanlah kecerdasan yang tepat untuk diandalkan dalam aktivitas 3S. Tentu saja karena IQ dan berbagai kecerdasan lainnya tidak hubungan dengan seks, seksual dan seksualitas.


Sejarah pun telah membuktikan jika IQ dan berbagai kecerdasan lain menjadi tidak berfungsi saat berhadapan dengan percintaan. Logika bisa tiba-tiba menghilang dan semuanya menjadi buta. Orang yang pintar dan sempurna pun bisa tiba-tiba jadi bodoh dengan begitu saja. Terlebih saat cinta mulai bermasalah.
Artinya, percintaan dengan tiga aktivitas utamanya, yaitu seks, seksual dan seksualitas memang harus diperlakukan dengan kecerdasan yang tepat. Jika tidak, hal yang sederhana pun bisa menjadi rumit. Masalah yang sederhana pun bisa menjadi rumit serumit-rumitnya. Itu lah sebabnya, banyak yang berkata jika cinta itu rumit.  Tentu saja karena mereka tidak memiliki kecerdasan yang tepat dalam aktivitas percintaan, yaitu Sexual Intelligence atau Kecerdasan seksual.
Sexual Intelligence adalah kemampuan untuk memahami, melakukan dan menyelesaikan berbagai hal yang berhubungan dengan proses sebab-akibat seks, seksual dan seksualitas yang melekat seumur hidup berdasarkan tujuh kecerdasan seksual.
Memahami 3S merupakan kecerdasan seksual dasar yang akan menjadi sebab yang baik dalam membangun sebuah pemahaman baru. Melakukan 3S merupakan aktivitas yang pasti akan dilakukan sesuai dengan pemahamannya. Karena pemahaman yang baik adalah bibit dari kesadaran atas perilaku seksual yang lebih baik. Menyelesaikan merupakan ujian keunggulan manusia dalam mencari solusi dengan cepat dan tepat atas sebuah masalah.
Ketiga hal inilah yang membuat hidup ini begitu mudah untuk dilewati atau sebaliknya. Masalahnya hanyalah pada kebijaksanaan untuk menempatkan ilmu dan kecerdasan untuk aktivitasnya. Sudah sesuai atau tidak?

Jadi dalam hal seks, seksual dan seksualitas sebagai aktivitas yang menjadi sebab-akibat lahirnya manusia di bumi ini, apakah kita sudah menggunakan kecerdasan yang sesuai? Jika sudah, sungguh bijaksana kehidupan percintaan Anda. 



DAFTAR ISI BUKU SEXUAL INTELLIGENCE – BASIC FOR RELATIONSHIP GOALS



Baca juga: Buku Sexual Intelligence – Basic For Relationship Goals

DAFTAR ISI

Pendahuluan                                                                         
                                                                                              
BAB 1 - RELATIONSHIP GOALS                                           
       Masalah Besar yang Menyulitkan Manusia                 
       Dihindari – Dihadapi – Diselesaikan                             
       Pengemudi yang Buruk                                                 
       Relationship Goals                                                           
       Relationship Goals Spot                                                 
       Sejarah Besar Relationship Goals tanpa Kecerdasan Seksual    

BAB 2 - ILMU KEHIDUPAN                                                  
       Porno atau Tidak?                                                         
       3 Ilmu Kehidupan yang Tidak Pernah Diajarkan           
       Seks, Seksual dan Seksualitas                                        
       Usia Seksual                                                                   
       Kompas Seksualitas                                                       
       Pamahaman Terbalik 3 Ilmu Kehidupan                       
       Hukum Sebab-akibat Seumur Hidup                             
       Dosis yang Tepat                                                           
       Efek Samping Salah Dosis                                             
       Obat Penyakit Mental Paling Manjur                           
       Keseimbangan 3 Ilmu Kehidupan dengan Kecerdasan Seksual 

BAB 3 - MENGARTIKAN KECERDASAN SEKSUAL              
       Memahami                                                                    
       Melakukan                                                                     
       Menyelesaikan                                                              

BAB 4 - MEMBANGUN KECERDASAN SEKSUAL                
       Keluar dari Roda Pembodohan Seksual                        
       Roda Pembodohan Seksual                                           
       Proses Pembelajaran Seksual                                       
       Kesepakatan Seksual                                                     
       Kondisi yang Dialami Saat Itu                                       

BAB 5 - 7 KECERDASAN SEKSUAL                                      
       Aspek Agama                                                                 
       Aspek Biologis                                                               
       Aspek Klinis                                                                    
       Aspek Psikososial                                                           
       Aspek Budaya                                                                
       Aspek Finansial                                                              
       Aspek Perilaku                                                               

BAB 6 - MELEWATI FASE KESEMPURNAAN SEKSUAL      
       Syok yang Tidak Diharapkan                                         
       Fase Kesempurnaan Seksual dan Perubahannya          
       Tidak Ada Kesempurnaan yang Abadi                          
       Logika Pada Akhirnya Digunakan                                  
       Manajemen Kebersamaan                                            
       Tujuan Melewati Fase Kesempurnaan dengan Kecerdasan Seksual     
       The Power of Sceptic                                                     

BAB 7 - REVOLUSI SEKSUAL YANG SEMPURNA                
       Evolusi Seksual                                                              
       Revolusi Seksual                                                            
       Revolusi Seksual yang Sempurna                                  
       Kebersamaan yang Sempurna                                      
       Impian Sempurna Kebersamaan                                   
       Membangun Kesepakatan Seksual                               
       Kesempurnaan dalam Kebersamaan                            
       Perkembangan Revolusi Seksual di Dunia                    

BAB 8 SEXUAL BUILDING                                                    
       Apa Itu Sexual Building
       Your Spot Activation
       Family Spot Activation                                                   
       Business Spot Activation                                                
       G-Spot Activation™                                                                           


BUKU SEXUAL INTELLIGENCE – BASIC FOR RELATIONSHIP GOALS


Sexual Intelligence for Basic Relationship Goals merupakan penjabaran tentang evolusi seksual dan revolusi seksual. Delapan bab dalam buku ini berbicara tentang pondasi sebuah gerakan perubahan yang didasarkan atas ilmu pengetahuan yang selama ini sengaja dikubur dalam-dalam karena dianggap sebagai pornografi. Kata ajaib “itu tabu” seakan-akan menjadi pembenaran berjalannya roda pembodohan seksual dengan mengecilkan arti kecerdasan seksual dalam siklus kehidupan manusia. Karena kecerdasan seksual pun ikut dikubur sebagai bagian dari pornografi. Akibatnya, evolusi seksual selama ini hanya berhasil membangun sexual instinct yang sebenarnya tidak berbeda dengan hewan secara alami. Sehingga butuh sebuah revolusi yang bisa membangun sexual intelligence, karena kita adalah manusia.
Seluruh hasil riset tentang “Pengaruh Perilaku Seks, Seksual dan Seksualitas Dalam Pencapaian Semua Tujuan Hidup Manusia” yang saya lakukan selama 9 tahun ini (2009-2017) digambarkan dalam bagan ERS (Evolusi dan Revolusi Seksual).
Buku ini merupakan pandangan saya secara umum tentang Sexual Instinct dan Sexual Intelligence yang memiliki sexual cause and effect yang sangat berbeda. Intinya sebab yang baik sejak awal akan membawa kebaikan pada akhirnya, begitu juga sebaliknya. Dan evolusi seksual yang berjalan lambat selama ini menjadi sebab yang tidak baik yang mengakibatkan manusia menjadi makhluk yang paling rapuh jika harus berhadapan dengan masalah percintaan dan kebersamaan. Percintaan dan kebersamaan ini pasti tidak akan pernah lepas dari aktivitas seks, seksual dan seksualitas.  

Evolusi seksual seperti yang kita alami saat ini saya gambarkan sebagai roda pembodohan seksual yang terus berputar secara turun-temurun sebagai proses pembelajaran seksual yang salah. Sehingga selama ini manusia hanya mengandalkan sexual instinct. Akibatnya, sexual action menjadi tanpa batasan, arah dan tujuan yang benar yang mendorong manusia hidup dengan perilaku seksual yang salah. Jadi jangan heran jika sexual history yang buruk akan memberikan pengaruh yang buruk bagi masa depan manusia. Ini tentang sexual cause and effect, sebab buruk akan memberikan pengaruh yang buruk pada akhirnya.
Revolusi seksual berbeda dengan evolusi seksual, karena perilaku seksual dilakukan berdasarkan sexual intelligence, bukan dengan sexual instinct. Kecerdasan seksual ini hanya bisa didapatkan melalui sexual building. Metode sexual building mengajarkan tentang seks, seksual dan seksualitas sebagai tiga hal yang berbeda yang bisa diberikan sesuai usia dan kebutuhannya. Efek positif yang terjadi adalah sexual action memiliki batasan, arah dan tujuan yang jelas dalam membangun sexual history yang baik secara mandiri, bersama pasangan, dalam keluarga dan dalam masyarakat. Sehingga jangan heran, jika sexual history yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula bagi masa depan setiap manusia. Ini adalah tentang sexual cause and effect, sebab baik sejak awal akan memberikan pengaruh yang baik pada akhirnya.
Tentang Sexual Intelligence (SI) atau Kecerdasan Seksual dalam bahasa Indonesia, saya pun telah berhasil mendeskripsikannya dengan baik dan benar tanpa unsur pornografi. SI merupakan kemampuan untuk memahami, melakukan dan menyelesaikan berbagai hal yang berhubungan dengan 7 aspek kecerdasan seksual. Terdiri dari aspek agama, biologis, klinis, psikososial, budaya, finansial dan perilaku yang membangun kecerdasan seksual itu sendiri. Tidak ada unsur pornografi dalam kecerdasan seksual ini, sehingga siapapun bisa mempelajari SI sesuai usia dan kebutuhannya. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tetap menganggap SI sebagai kecerdasan berbau mesum yang penuh pornografi.
Semoga buku Sexual Intelligence for Basic Relationship Goals bisa menjadi pondasi yang baik dalam membangun pribadi, pasangan dan keluarga hebat dengan perilaku seksual yang baik agar semua tujuan hidup dalam kebersamaan bisa tercapai, amien. Karena Anda semua berhak untuk mendesain kehidupan dan masa depan yang penuh kebahagiaan, keharmonisan, kehebatan, kesuksesan dan kekayaan.

TERNYATA INILAH TUJUAN DARI SEXUAL INTELLIGENCE


Albert Einstain pernah mengatakan, jika “sungguh manusia itu haus ilmu pengetahuan”, artinya, manusia selalu ingin mempelajari berbagai hal. Jauh sebelum itu, Plato pun mengatakan jika, “Ilmu pengetahuan adalah makanan bagi jiwa”, yang berarti jika jika setiap manusia juga butuh diberi nutrisi berupa ilmu pengetahuan. Bahkah Khalifah Ali bin Abu Thalib juga pernah mengatakan jika, “Kehormatan manusia adalah pengetahuannya”, artinya, bahwa manusia berilmu menjadi lebih terhormat jika dibandingkan yang tidak berilmu.
Jika dipahami sekilas, mereka mencoba untuk meningkatkan derajat manusia dengan ilmu pengetahuan. Tujuannya agar manusia berbeda dengan hewan yang hanya mengandalkan naluri.
Namun dalam hal percintaan sebagai bagian dari takdir untuk hidup berpasang-pasangan, saya, Bara Susanto, melihat dasar perilaku manusia yang hanya mengandalkan insting atau naluri. Jadi bukan dengan kecerdasan yang tepat untuk percintaan dan kebersamaan. Kesimpulan ini didasari oleh riset yang saya lakukan selama 9 tahun tentang “Pengaruh Perilaku Seks, Seksual dan Seksualitas Dalam Pencapaian Semua Tujuan Hidup Manusia”.
Kesimpulannya, bahwa selama ini manusia hanya mengandalkan naluri untuk urusan percintaan. Karena masih belum mengembangkan kecerdasan yang tepat dalam percintaan dan kebersamaan.
Sehingga manusia yang “buta cinta” tidak haus ilmu pengetahuan tentang love and relatioship seperti kata Einstain. Manusia juga tidak pernah berusaha memberi nutrisi utuk jiwa saat menganggap cinta itu sendiri adalah nutrisi. Padahal cinta itu sendiri selalu membutuhkan banyak nutrisi untuk menjaganya tetap sehat.
Akibatya, manusia menjelma menjadi mahkluk yang paling rapuh dan mudah dihancurkan oleh cinta ini. karena jiwa yang tidak sehat dan kekurangan nutrisi. Itulah sebabnya manusia selalu binggung saat keindahan cinta itu mulai berubah menjadi masalah yang rumit. Sebuah perubahan yang tidak pernah diharapkannya.
Dan akhirnya, manusia mudah atau bahkan sering sekali kehilangan kehormatannya karena perilakunya sendiri yang buruk dalam percintaan. Tentu saja karena kita tidak pernah memiliki batasan, arah dan tujuan percintaan yang baik. Semua itu terjadi karena manusia tidak memiliki ilmu percintaan dan kebersamaan yang baik.
Hasil riset ini kemudian saya ditulis dalam buku Sexual Intelligence – Basic forRelationship Goals Management, yang menjelaskan tentang Kecerdasan Seksual sebagai dasar manajemen percintaan dan kebersamaan untuk mencapai berbagai tujuan dari sebuah hubungan.
Goals dari buku ini adalah setiap individu yang hidup dengan;
1.      Memiliki kecerdasan yang tepat dalam percintaan dan kebersamaan, sehingga tidak hanya mengandalkan naluri.
2.      Memiliki kesadaran baru dalam seks, sexual dan seksualitas sebagai aktivitas wajib dalam percintaan dan kebersamaan.
3.      Memiliki perilaku dengan batasan, arah dan tujuan yang jelas dalam percintaan dan kebersamaan.
4.      Fokus meraih kebahagiaan dan keharmonisan, mempertahankan kehebatan, serta meraih kesuksesan dan kekayaan. Bukan  hanya fokus pada masalah percintaan.
Ini adalah tentang sebuah revolusi yang benar dalam percintaan dan kebersamaan. Dengan mengajarkan kecerdasan yang paling tepat untuk semua aspek aktivitas percintaan ini. Karena kita hanya mengalami evolusi seksual sejak peradaban ini dibentuk dengan hanya mengandalkan naluri.
Evolusi seksual seperti yang kita alami saat ini digambarkan sebagai roda pembodohan seksual yang terus berputar secara turun-temurun sebagai proses pembelajaran seksual yang salah. Sehingga selama ini manusia hanya mengandalkan sexual instinct. Akibatnya, sexual action menjadi tanpa batasan, arah dan tujuan yang benar yang mendorong manusia hidup dengan perilaku seksual yang salah. Jadi jangan heran jika sexual history yang buruk akan memberikan pengaruh yang buruk bagi masa depan manusia. Ini tentang sexual cause and effect, sebab buruk akan memberikan pengaruh yang buruk pada akhirnya.
Revolusi seksual berbeda dengan evolusi seksual, karena perilaku seksual dilakukan berdasarkan sexual intelligence, bukan hanya mengandalkan sexual instinct. Kecerdasan seksual ini hanya bisa didapatkan melalui sexual building. Metode sexual building mengajarkan tentang seks, seksual dan seksualitas sebagai tiga hal yang berbeda yang bisa diberikan sesuai usia dan kebutuhannya. Efek positif yang terjadi adalah sexual action memiliki batasan, arah dan tujuan yang jelas dalam membangun sexual history yang baik secara mandiri, bersama pasangan, dalam keluarga dan dalam masyarakat. Sehingga jangan heran, jika sexual history yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula bagi masa depan setiap manusia. Ini adalah tentang sexual cause and effect, sebab baik sejak awal akan memberikan pengaruh yang baik pada akhirnya.
Revolusi ini sejalan dengan arti dari Sexual Intelligence itu sendiri. Yaitu kemampuan untuk memahami, melakukan dan menyelesaikan semua hal yang berkaitan dengan seks, seksual dan seksualitas yang melekat seumur hidup berdasarkan tujuh kecerdasan seksual. 7 kecerdasan seksual itu sediri terdiri dari aspek agama, biologis, klinis, psikososial, budaya, finansial dan perilaku.
Jadi Sexual Intelligence bukanlah kecerdasan yang berbau pornografi dan revolusi seksual juga bukan gerakan berbau mesum. Ini hanyalah sebuah proses untuk membangun kesadaran baru dalam hubungan antar manusia yang diikat oleh cinta dengan batasan, arah dan tujuan yang lebih jelas. Agar mampu menciptakan kehidupan yang penuh kebahagiaan, keharmonisan, kehebatan, kesuksesan dan kekayaan bersama pasangan dan keluarga.

Akhir kata, saya sering sekali mengatakan jika, “Hidup ini sudah sulit, jangan dipersulit lagi dengan urusan percintaan yang tidak jelas”. Tujuannya agar kita lebih fokus untuk mencapai standart kehidupan yang penuh kebahagiaan, keharmonisan, kehebatan, kesuksesan dan kekayaan. Bukan selalu fokus pada masalah percintaan. 

Baca juga :

SEMUA WANITA HARUS MEMILIKI KECERDASAN SEKSUAL


 Wanita memang lemah secara fisik. Namun wanitalah yang ternyata terbukti mengendalikan kehidupan di muka bumi ini. Jadi jangan remehkan wanita ya ...
Sayangnya, banyak sekali wanita yang tidak menyadari kehebatannya. Sehingga tetap menjadi makhluk yang lemah. Atau sebenarnya merekalah yang melemahkan dirinya sendiri dengan sengaja. Akibatnya sungguh bisa ditebak, kaum pria – bahkan yang tidak hebat sekalipun – menjadi super hebat dan berkuasa dihadapan wanita dengan mudahnya.
Lucunya, saya yang menulis artikel ini adalah seorang pria. Bukan maksud saya untuk merendahkan diri, tetapi kenyataan ini saya tulis berdasarkan riset tentang “Pengaruh Seks, Seksual dan Seksualitas Dalam Kehidupan Manusia”. Saya Bara Susanto, seorang lovolog dan pakar SI (sexual intelligence), penulis buku Sexual Intelligence – Basic for Relationship Goals Management.

Mengapa saya berani mengatakan jika wanitalah yang mengendalikan kehidupan di muka bumi ini? pertanyaan ini terjawab dalam buku saya melalui pembahasan 7 kecerdasan seksual. Baik dalam kebersamaan maupun manita secara pribadi. Yaitu aspek agama, biologis, klinis, psikososial, budaya, finansial dan perilaku.
Pada aspek agama, wanita memiliki derajat penghormatan yang lebih tinggi dari pria. Dalam islam – maaf, agama saya – seorang anak diwajibkan menghormati ibu sebelum ayahnya dan untuk melahirkan keturunan yang baik pria dianjurkan mencari wanita yang baik pula. Termasuk juga dalam pernikahan, sebaik-baiknya wanita adalah yang masih perawan. Pada aspek biologis, - inilah yang saya maksud - bahwa yang melahirkan keturunan adalah wanita, bukan pria. Pada aspek klinis, wanita yang sehat akan melahirkan anak yang sehat, sedangkan wanita yang tidak sehat akan berakibat pada anakya. Misalnya Ibu pengidap HIV akan menurunkan virus yang sama pada anaknya. Pada aspek psikososial, wanita memiliki pengaruh yang besar pada baik-buruknya lingkungan pergaulan. Misalnya, dalam rumah sebagai lingkungan terkecil, ibu yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pada semua keluarga. Namun sebaliknya, ibu yang tidak baik akan memberikan pengaruh buruk pada keluarga, terutama anak. Pada aspek budaya, wanita cenderung dijunjung jika berhasil merubah budaya menjadi lebih baik. Namun sebaliknya, wanita akan dihujat seumur hidupnya jika merusak tatanan kehidupan. Pada aspek finansial, wanita lebih bisa mengendalikan keuangan dariapada pria.
Setidaknya itu hanya beberapa gambaran sederhana....
Terakhir pada aspek perilaku yang menjadi fokus dalam buku saya, bahwa semua kebaikan dan keburukan dalam kebersamaan adalah karena wanita menyepakatinya. Karena jika wanita tidak menyepakatinya, maka tidak akan terjadi keburukan dibumi ini. khusunya pasa wanita itu sendiri.
Dalam kasus pelecehan dan pemerkosaan, sebagian besar – tidak semua kasus -   berawal dari wanita yang secara sadar atau tidak memberikan kesempatan bagi pria untuk melakukannya.  Misalnya wanita yang ikut berpesta minuman keras pria yang berujung pada pemerkosaan. Secara logika sebenarnya dia bisa saja pergi dari aktivitas itu, tetapi mengapa dia tidak melakukannya.
Dalam kehamilan pra nikah, wanita bisa saja menolak keinginan pacarnya untuk melakukan hubungan seks yang berpotensi kehamilan diluar pernikahan. Karena sehebat apapun pria menginginkan hubungan seks itu, ketika wanita tidak menyepakatinya, maka hubungan seks itu tidak akan terjadi.
Dalam kekerasan oleh pasangan, wanita seharusnya menyadari karakter pasangannya sebelum menyepakati kebersamaan. Sehingga bisa memutuskan mana pasangan yang terbaik dan mana yang berpotensi untuk menyakiti. Namun, namanya juga cinta buta, banyak yang membuat keputusan untuk hidup bersama sekalipun mereka mengetahui potensi penderitaan yang akan diterima dikemudian hari. Logikannya, jika masih pacaran saja sudah menunjukan banyak keburukan, apalagi jika telah menikah.  
Berbagai contoh ini menjelaskan mengapa wanita membutuhkan Sexual Intelligence atau kecerdasan seksual ini. Karena SI bisa menjadi pondasi bagi wanita untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Dengan memahami berbagai potensi yang merugikan sebelum terjadi dan membuat berbagai kesepakatan dalam kebersamaan dengan kecerdasan. Bukan hanya dengan perasaan.
Jika wanita bisa hidup dengan kecerdasan seksual, maka wanita akan tetap bisa bisa mengendalikan kehidupan di mula bumi ini dengan lebih baik.


PEREMPUAN MELAWAN KEKERASAN SEKSUAL DENGAN SEXUAL INTELLIGENCE


Kekerasan seksual kini telah berubah menjadi tindakan yang harus diberantas dan menjadikan pelakunya sebagai musuh negara. Tidak hanya KOMNAS Perempuan saja, bahkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun menjadikan kekerasan seksual sebagai issue penting dalam programnya. Bahwa menuntut pelaku pelecehan seksual harus mendapatkan hukuman yang setimpal.
Tapi apakah kekerasan seksual harus dilawan?
Saya, Bara Susanto, seorang lovolog dan pakar kecerdasan seksual, dalam buku yang berjudul Sexual Intelligence – Basic for Relationship Golas mengatakan jika “tidak ada kekerasan seksual yang harus dilawan jika kekerasan itu tidak pernah terjadi”. Artinya kekerasan seksual ini (terutama pada wanita) seharusnya bisa dihindari sejak awal. Tentu saja ketika potensi kekerasan itu secara prefentif bisa dicegah.  
Lalu mengapa para wanita tidak mengindarinya?
Hal ini memang berlaku sama secara universal. Bahwa selama kaum perempuan (termasuk pria) tidak memiliki Sexual Intelligence, maka berbagai model kekerasan seksual pun akan tetap terjadi. Disini saya mencoba menyelesaikan masalah pada akar masalahnya, pada sebab awal, mengapa kekerasan itu terjadi.
Dalam berbagai kasus - jika dilihat dari perilaku seksual -  seringkali wanita-lah yang menempatkan diri untuk menjadi korban yang paling potensial dalam berbagai kekerasan seksual. Bahkan beberapa diantaranya – dalam konsisi tertentu – mereka ikhlas untuk menjadi korban. Sebagian lagi tidak merasa telah sebagai korban atau selalu hidup dalam lingkaran potensi kekerasan ini. Padahal sebenarnya mereka semua bisa memutuskan untuk tidak menjadi korban dengan menghindari potensi kekerasan ini sebelum kekerasan itu terjadi. Ini adalah tindakan prefentif yang lebih bijaksana.
Dan jika mau, kondisi ini bisa dirubah dengan mudah jika para wanita memiliki SI atau kecerdasan seksual ini. Sebuah kecerdasan yang mampu memberikan pemahaman baru yang untuk perubahan perilaku yang lebih baik. Sebuah kesadaran untuk melindungi dirinya dari potensi kekerasan seksual atau menghindarinya sebelum terjadi kekerasan seksual yang tidak diinginkan.
Artinya daripada melawan kekerasan seksual pada perempuan, saya lebih menyarankan untuk memberikan bekal kekuatan kepada wanita untuk mengindarinya. Karena ketika melawan satu kekerasan seksual, minimal telah ada satu wanita yang menjadi korban. Namun jika wanita memiliki kecerdasan seksual untuk menghindari sejak awal, maka tidak setidaknya ada banyak wanita yang bisa menghindari kekerasan seksual secara mandiri. Tentu saja mereka telah memiliki sebuah kesadaran baru yang lebih baik.  

Sexual Intelligence – yang dimaksud – adalah kemampuan untuk memahami, melakukan dan menyelesaikan berbagai hal yang berhubungan dengan proses sebab-akibat seks, seksual dan seksualitas yang melekat seumur hidup berdasarkan tujuh kecerdasan seksual.  Bahwa ruang lingkup kekerasan seksual ada pada 3S, yaitu seks, seksual dan seksualitas sebagai aktivitas yang selalu bersinggungan dengan hubungan antar manusia selama 24 jam.
Kemampuan memahami berarti setiap wanita memahami batasan, arah dan tujuan dari 3S dengan jelas berdasarkan 7 kecerdasan seksual untuk membangun sebuah kesadaran baru. Salah satu fungsi kesadaran seksual ini adalah untuk memahami potensi kekerasan seksual yang akan terjadi.
Kemampuan melakukan berbagai aktivitas 3S sebagai perilaku seksual yang memikirkan hubungan sebab-akibatnya berdasarkan 7 kecerdasan seksual. Salah satu fungsinya adalah membentuk pola perilaku (dilakukan dan diterima) yang sesuai dengan pemahamannya dalam menghadapi potensi kekerasan seksual.
Kemampuan menyelesaikan sebagai bentuk manajemen resiko atas berbagai kejadian yang berhubungan dengan 3S. Manajemen resiko adalah tanggungjawab dan solusi sebagai akibat dari perilaku seksual yang pernah dilakukan atau diterima.
Misalnya, saat tanpa sengaja berada di sebuah pesta miras dengan beberapa pria. Wanita ber-SI tentu akan memahami dengan cepat jika dia berada ditempat yang salah yang kemudian bisa memprediksi potensi kekerasan seksual atau pelecehan seksual yang akan didapatnya. Lalu bisa memutuskan untuk segera keluar dari zona berbahaya ini. Sehingga tidak akan terjadi pelecehan atau bahkan pemerkosaan yang tidak diinginkan.
Contoh ekstrim yang banyak terjadi adalah seorang wanita yang ikhlas untuk “dijual” sebagai PSK oleh pasangan atau suaminya sendiri. Padahal seharusnya, wanita tersebut memiliki banyak peluang untuk bisa menolak dan tidak melakukan hal ini.
Jadi – maaf jika salah – saya berani mengatakan jika, “tidak ada kekerasan seksual yang harus dilawan jika kekerasan itu tidak pernah terjadi”. Tentu saja ketika potensi kekerasan itu secara prefentif bisa dicegah oleh wanita yang memiliki Sexual Intelligence sebagai benteng penyelamatnya.