Banyak orang mengira bahasa Inggris adalah bahasa yang paling presisi untuk urusan ini. Faktanya, bahkan dalam penuturan aslinya, batas antara Relation dan Relationship sering kali abu-abu dan membingungkan.
Secara etimologis, keduanya berasal dari akar kata yang sama, kata relasi dapat ditelusuri asal-usulnya kembali ke akhir abad ke-14, berasal dari bahasa Prancis Kuno relacion dan langsung dari bahasa Latin relātiō(n-) , yang berarti "membawa kembali, memulihkan, atau melaporkan".
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita tidak memiliki padanan kata mandiri yang mampu mewakili kedalaman makna hubungan. Solusi instan yang diambil selama sepuluh-puluh tahun adalah menyerap kata relasi menjadi "Relasi", atau menggunakan kata lokal "Hubungan".
Relasi diterjemahkan sebagai relasi, sedangkan relasi juga diterjemahkan sebagai relasi. Baik dalam kajian akademik maupun dalam bahasa sehari-hari. Sehingga kini terus terjadi kebinggungan penempatan diksi yang tepat hingga menjadi sumber kesulitan untuk mengembangan studi tentang hubungan.
Melihat kebuntuan bahasa yang akut ini, Lovology mengambil langkah revolusioner. Lovology menolak untuk terus mengekor pada batasan kamus yang ada. Jika bahasa belum menyediakan wadahnya, maka ilmu pengetahuan harus menciptakannya.
Lovology hadir melakukan rekonstruksi linguistik secara total dengan memperkenalkan istilah RELASIAN sebagai terjemahan resmi, mandiri, dan mutlak untuk Relationship.
Relasinya sendiri adalah kelekatan interaksi dalam berbagai aspek untuk jangka pendek tanpa melibatkan hasrat seksual. Relasi sering juga disebut sebagai hubungan.
Sedangkan relasian dalam Lovology adalah bentuk kelekatan antar manusia yang melibatkan hasrat seksual untuk tujuan jangka panjang. Baik yang berjalan secara satu arah maupun timbal balik yang fokus pada harapan hubungan jangka panjang sebagai sebuah ikatan dan komitmen.
Keberanian lovology dalam memperkenalkan istilah relasian membuka jalan untuk mempublikasikan berbagai istilah baru yang memiliki kata dasar relasian. Dua diantaranya adalah relasianitas dan relasianonalitas.
Istilah ketiga baru yang diperkenalkan lovology tersebut akhinya mulai dipublikasikan juga sebagai konteks tritunggal yang kokoh. Sebuah cetak biru taksonomis yang meliputi yang kemudian diperkenalkan sebagai Relationship Trinity atau Trinitas Relasian.
Secara sederhana, Relationship Trinity atau Trinitas Relasian adalah hubungan antar manusia sebagai relasian yang dijalankan berdasarkan sistem hukum dasar sebagai relasianitas yang universal serta didukung kesadaran pribadi sebagai relasianonalitas.
Relationship Trinity atau Trinitas Relasian pertama kali dipublikasikan oleh Bara Susanto, lovolog dan pendiri lovology, sebagai bagian dari Trilogy of Lovology.
Tritunggal ini mengintegrasikan tiga pilar utama yang saling mengunci dan menghidupkan: Relasianitas, Relasian, dan Relasianonalitas .
1. RELASIANITAS: Hukum Dasar Hubungan Manusia Secara Makro dan Sistemik
Secara makro, relasianitas dideskripsikan sebagai hukum dasar dalam Hubungan Manusia. Berupa totalitas sistem, struktur formal, aturan hukum, dan esensi filosofis-ilmiah yang mendasari serta mengatur konstelasi hubungan jangka panjang manusia yang melibatkan hubungan sebab-akibat dari hasrat seksual. Bahkan bisa berupa sistem yang bersifat global atau universal, meskipun tidak secara utuh. Misalnya saja; pernikahan yang normal adalah antara pria dan wanita.
Akhiran -itas dalam relasianitas menyatakan suatu kondisi mutlak yang bersifat objektif. Ini adalah ranah hukum alam, aturan konstitusi, dan cetak biru ilmiah universal yang mengatur bagaimana seluruh hubungan romantis manusia beroperasi.
Relasianitas adalah sistem makro yang mengatur struktur dasar hubungan yang sehat. Diwujudkan secara paripurna melalui kerangka Hepta Relasianitas (7 dimensi hubungan), pilar ini bertindak sebagai fondasi utama. Jika suatu hubungan dibangun dengan melanggar hukum-hukum dasar relasianitas, maka hubungan tersebut secara matematis pasti akan mengalami keretakan. Manusia sering kali salah memilih pasangan hidup bukan karena mereka kekurangan cinta, melainkan karena mereka buta terhadap hukum hubungan yang mengikat mereka.
2. RELASIAN: Kelekatan Yang Melibatkan Hasrat Secara Mezzo
Secara mezzo pada ekosistem terkecil, yaitu manusia yang berpasangan, relasian diartikan sebagai bentuk kelekatan antar manusia yang melibatkan asrat seksual untuk tujuan jangka panjang Baik yang berjalan secara satu arah maupun timbal-balik yang fokus pada harapan hubungan jangka panjang sebagai sebuah ikatan dan komitmen.
Relasian adalah wujud nyata, ruang hidup, atau ekosistem sakral tempat bersatunya dua manusia. Berbeda dengan relasi biasa yang bersifat sosial-profesional, Relasian menandakan adanya kelekatan mendalam yang gerakan oleh dorongan romantis/seksual (hasrat seksual), baik satu arah maupun timbal balik dengan orientasi komitmen jangka panjang (komitmen jangka panjang).
Relasian adalah wadah energi psikologis, emosional, dan biologis yang ditampilkan demi melihat masa depan bersama. Tanpa wadah Relasian yang jelas, hasrat manusia hanya akan menjadi interaksi transaksional jangka pendek yang tanpa arah. Disinilah cikal bakal bekerlanjutan kehidupan manusia berasal.
3. RELASIANONALITAS : Pemahaman Secara Mikro Terkait Hubungan Manusia.
Secara mikro, relasianonalitas merupakan pemahaman kesadaran atas Hubungan Manusia secara personal dalam ranah efektif, kognitif dan behavioral. Sebuah kesadaran yang dapat berupa kecerdasan, yang dalam lovology dipublikasikan sebagai Relationship Intelligence dan berupa kecakapan yang dalam lovology dipublikasikan sebagai Human Relationship Skill.
Relasianonalitas adalah derajat kapasitas, kapabilitas, dan kecerdasan fungsional individu atau pasangan dalam menjalankan kelekatan kebersamaan mereka sehari-hari. Dengan menggunakan segenap kemapuan IPPRM (Ilmu, Pengetahuan, Pengalaman, Rasa dan Makna) untuk melakukan Analisis. Diagmosis dan Prognosis. Serta mengembangkan kemampuan Mitigasi, meningkatkan Daya Koping dan memperkuat kemampuan Resiliensi.
Karena Hubungan Manusia itu dinamis. Bahkan sering kali bergerak cepat dengan perubahan yang tiba-tiba. Sehingga dibutuhkan kualitas relasianonalitas yang unggul dalam melewati ekosistem yang berkelanjutan.