Kamis, 14 Mei 2026

Lovology 2026: Ilmu Baru Untuk Human Relationship

Lovology atau Lovologi adalah sebuah ilmu baru yang spesifik mempelajari dan mengajarkan tentang Hubungan Manusia atau relasian manusia. Dipublikasikan oleh Bara Susanto, seorang lovolog, setelah melakukan penelitian selama 14 tahun.

Relationship yang dalam Lovology diterjemahkan sebagai relasian. Salah satu istilah baru yang mulai dipublikasikan. Relasian menjadi wujud nyata kelekatan kebersamaan manusia yang selama ini hanya melibatkan ranah afektif (hasrat, niat dan harapan) dan behavioral (perilaku seksual), tanpa melibatkan kognitif. Karena memang sebelumnya tidak ada keilmuan yang spesifik sebagai episteme terkait Human Relationship sesuai usia dan kebutuhannya. Secara genealogi keilmuan, hal ini dapat dibuktikan terjadi bahkan sejak era manusia pertama di bumi, era keemasan filsafat yunani, bahkan hingga hari ini.

Kegelisahan inilah yang menjadi salah satu alasan kehadiran Lovology sebagai solusinya dalam bidang keilmuan yang spesifik untuk hubungan antarmanusia berdasarkan penelitian selama 14 tahun. 

Meskipun Lovology membahas relasian, tujuan utamanya bukanlah tentang kebahagiaan yang bersifat pribadi dan keharmonisan yang bersifat kebersamaan. Karena bahagia dan harmonis dalam kedamaian adalah dampak yang dapat sewaktu-waktu berubah. Keduanya tidak kekal dan tidak juga berkelanjutan, namun dapat diupayakan ketahanannya. Khususnya tentang keharmonisan yang melibatan kebahagiaan pasangan. Saat kebahagiaan pasangan menurun, keharmonisan juga akan menurun kualitasnya. Namun kebahagiaan, ketenangan dan ketenangan secara jiwa pribadi harus selalu terjaga sebagai bagian dari kesehatan yang indah. Inilah fungsi Lovology.

Sekali lagi, Lovology bukan ilmu untuk mencapai kebahagiaan dan keharmonisan. Keduanya hanyalah dampak yang dapat dicapai dari sebuah proses yang dapat diajarkan secara tersistematisasi dalam Lovology. Bukan juga ilmu untuk meningkatkan kemampuan seksual.

Secara sekilas, meskipun tidak saling berhubungan, dapat dikatakan jika Lovology merupakan penyempurna dari berbagai keilmuan barat dan eropa tentang Human Relationship. Termasuk menyempurnakan kegagalan psikoseksual Sigmun Freud yang diterjemahkan dan diajarkan. Karena terlalu fokus pada pepelampiasan hasrat dan kepuasan jasa sebagai pelacur relasian.

Setelah melewati 14 tahun penelitian, landasan dan tujuan utamanya adalah pengetahuan eksplisit Lovology untuk meningkatkan pengetahuan tacit yang spesifik terkait hubungan manusia. Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan formal, terdokumentasi, tersistematisasi dan mudah diajarkan tanpa interaksi langsung. Sedangkan pengetahuan tacit adalah pengetahuan yang sangat personal, wawasan, pengetahuan tak kasat mata atau “know how” yang tertanam dalam pikiran individu sehingga sulit untuk mengajarkan interaksi secara langsung.

Ringkasnya, Lovology berasal dari tacit pengetahuan tentang Hubungan Manusia yang diupayakan untuk dideskripsikan secara sederhana, sistematis, kohern menjadi explisit pengetahuan agar mudah diajarkan untuk membangun pengetahuan tacit tentang Hubungan Manusia bagi siapa pun yang mempelajarinya. Berasal dari tacit, menjadi eksplisit, untuk membangkitkan kesadaran pengetahuan tacit.

Pengetahuan eksplisit sebagai keterampilan kognitif, pengetahuan tacit sebagai keterampilan afektif, untuk menyempurnakan perilaku seksual yang berilmu, bermoral dan tanpa ampun.

Lovology memiliki fungsi transformatif sebagai sebuah keilmuan yang spesifik tentang Hubungan Manusia untuk meningkatkan kemampuan mitigasi, daya koping dan resiliensi secara afektif, kognitif dan behavioral melalui analisis kekuatan dan diagnosis hingga prognosis pengiriman yang mendekati presisi. Kemampuan ini menjadi salah satu bagian dari Relationship Intelligence - RI yang terwujud sebagai Human Relationship Skill. Kebahagiaan, keharmonisan dan kedamaian hanyalah dampak yang kualitasnya dan kesejahteraannya setara dengan tinggi rendahnya RI.

Jika kebersamaan dan keharmonisan mampu dimitigasi perubahannya, setidaknya daya koping akan dapat mempertahankan kebahagiaan dan ketenangan hidup secara pribadi. Sebagai bagian dari kesehatan yang indah. Untuk kemudian bangkit dengan memanfaatkan kekuatan ketahanan yang telah dipersiapkan sejak awal.

Meskipun saat ini Lovology masih berstatus sebagai proto-science, Lovology sudah dapat digunakan sebagi dasar motode untuk menganalisis, mendiagnosis dan prognosis hingga mampu melahirkan kemampuan mitigasi, daya koping dan resiliensi. Termasuk sebagai metode mendekonstruksi paradigma tentang hubungan antarmanusia hingga menjadi lebih rasional untuk mengenali, mengelola, mengendalikan dan memodifikasinya sesuai usia dan kebutuhan. Memulai perubahan baru terhadap berbagai mitos tentang Cinta dan Hubungan Kemanusiaan menjadi logo yang mudah untuk dipelajari dan diajarkan secara universal. 

Lovology berasal dari kata Lov atau Love dan ology atau logos (bahasa Yunani) yang berarti ilmu. Secara etimologi nama yang lebih tepat sebenarnya adalah Philology atau Filologi . Berasal dari philos (bagian dari filsafat) yang berarti cinta dan ology atau logos (bahasa Yunani) yang berarti ilmu. Namun Filologi   tidak dapat digunakan karena telah menjadi cabang ilmu tentang studi yang mempelajari manuskrip atau teks sastra kuno. Sehingga Lovology sebagai alternatif istilah yang terpublikasi.   

Lovology pertama kali dipublikasikan secara terbatas oleh Bara Tri Susanto, seorang lovolog pertama dan penemu Lovology pada tahun 2019 setelah melakukan penelitian selama 10 tahun. Hingga tahun 2024, penelitian seumur hidup tentang Lovology telah berlangsung selama 14 tahun. Bara Susanto juga mendirikan Lovology Institute sebagai Lembaga penelitian dan pengembangan Cinta dan Hubungan Kemanusiaan.

Lovology terdiri dari empat ajaran utama tentang “Love and Relationship Goals Management” dapat disebut juga sebagai Lovology Lifecircle yang menjadi landasan dari ajaran Lovology dan semua pengetahuan yang terkait. Terdiri dari;

1.      Ajaran tentang Cinta

2.      Ajaran tentang Hubungan

3.      Ajaran tentang Goals

3.1. Ajaran tentang tujuan pribadi

3.2. Ajaran tentang tujuan relasian

4.      Ajaran tentang Manajemen

4.1. Ajaran tentang manajemen cinta

4.2. Ajaran tentang manajemen hubungan

4.3. Ajaran tentang manajemen tujuan pribadi

4.4. Ajaran tentang manajemen tujuan hubungan

 

Dasar penentuan materi pengajarannya Merujuk pada Lovology Model sebagai peta berpikir dari Lovology yang terdiri dari;

-          4 Bab Ajaran Lovologi 

-          20 Sub Bab Ajaran Lovologi 

-          101 Pokok Bahasan Ajaran Lovologi 

-          5050 Sub Pokok Bahasan Ajaran Lovologi

Hingga saat ini, Lovology menjadi satu-satunya metode untuk melahirkan kecerdasan yang sesuai untuk hubungan antarmanusia, yaitu Relationship Intelligence - RI . Menjadikan RI dirancang menjadi alat berpikir yang paling sesuai untuk hubungan antarmanusia, khususnya jika dibandingkan IQ, EQ dan RI. Lovology menyebutnya sebagai Quad Intelligence, terdiri dari: IQ, EQ, RI dan RI. Kecerdasan sempurna yang lengkap sesuai fungsi yang spesifik. Quad Intelligence menjadi kecerdasan kolaboratif yang dapat digunakan sesuai usia dan kebutuhan.

Untuk selanjutnya Lovology dan RI menjadi kohernsi untuk menghasilkan Human Relationship Skills. Sebagai sebuah kompetensi baru yang kompatibel dengan hubungan antarmanusia secara afektif, kognitif dan behavioral agar dapat berfungsi optimal dengan indikator yang dapat dinilai secara objektif sesuai usia dan kebutuhan. 

Ketiganya dipublikasikan sebagai Trilogy of Lovology. Lovology sebagai sebuah ilmu yang spesifik, Relationship Intelligence - RI sebagai sebuah kecerdasan yang sesuai dan Human Relationship Skills sebagai sebuah kompetensi yang kompatibel untuk Human Relationship.

Trilogy of Lovology dideskripsikan sebagai;

1.   Lovology atau Lovologi adalah sebuah ilmu baru (proto-sains) yang spesifik mempelajari dan mengajarkan tentang hubungan antarmanusia atau relasian manusia.

2.   Relationship Intelligence - RI adalah kecerdasan yang sesuai untuk Human Relationship (proto-intelligence) . Dengan keunggulan kemampuan untuk menganalisis, mendiagnosis dan prognosis dalam hubungan antarmanusia. Sehingga mampu melahirkan kesadaran baru yang bermanfaat untuk mitigasi, daya koping dan resiliensi dalam berbagai fase relasian sesuai usia dan kebutuhan. Untuk mengendalikan moralitas secara afektif,

3.   Human Relationship Skills adalah kompetensi baru yang kompatibel dengan hubungan antarmanusia (proto-competency) secara afektif, kognitif dan behavioral agar dapat berfungsi optimal dengan indikator dari RI yang dapat dinilai secara objektif sesuai usia dan kebutuhan. 

Trilogy of Lovology menjadi poiesis atau objek penciptaan nyata yang dipublikasikan. Dimulai dengan selesai dibukukannya Sexual Intelligence – Sexual Intelligence sebagai buku pertama pada tahun 2016 yang kemudian dirubah menjadi Relationship Intelligence - RI pada tahun 2025 dan terus berkembang hingga menjadi 3 buku yang diterbitkan sebagai Trilogy of Lovology pada tahun 2025. Trilogy of Lovology juga sebagai tranformasi dari kebaruan atau temuan baru yang belum terwujud berdasarkan penelitian selama 9 tahun sejak 2009 hingga 2017.

Lovology dan Trilogy of Lovology menjadi magnum opus atau karya besar dari penemunya, Bara Tri Susanto, setelah melakukan penelitian selama 14 tahun.

Lovology ibarat sedang mengisi ruang kosong ilmu pengetahuan yang spesifik tentang Cinta dan Hubungan Manusia. Lovology juga bisa menjadi solusi preventif terbarukan. Karenanya hingga kini belum ada ilmu yang spesifik sebagai pembanding yang mempelajari dan mengajarkan tentang Cinta dan Hubungan Kemanusiaan.

Hubungan antarmanusia akan selalu berkaitan dengan 2 hal, yaitu cinta dan hubungan atau cinta dan relasian. Cinta berkaitan dengan hubungan Intra hormonal dan intra seksual, sedangkan relasian menjadi perubahan hubungan Inter hormonal dan inter seksual

Lovology menjadi jalan keserasian dari cinta dan relasian. Cinta sebagai ruh kehidupan (akal ruhani), kebijaksanaan adalah kebijaksanaan (akal jiwa) dan jasad (akal materiil) sebagai rumah dari perilaku. Termasuk juga keserasian antara akal teori dan akal praktik.

Secara filosifis, Lovology merupakan kritik Bara Susanto terhadap filsafat yang hanya melahirkan kebijaksanaan dengan berbagai pengetahuan turunannya. Secara etimologi, Filsafat berasal dari philos yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Namun sejak era pra Socrates, Thales serta para filsuf setelahnya, bahkan hingga kini, filsafat hanya sedikit melahirkan pengetahuan tentang cinta dan tidak melahirkan ilmu yang spesifik tentang Cinta dan Hubungan Manusia. Filsafat lebih dimaksimalkan fungsinya untuk melahirkan berbagai ilmu dan kebijaksanaan untuk makhluk, alam semesta dan Tuhan.

Filsafat memang telah berjasa melahirkan berbagai ilmu tentang hubungan antarmanusia namun tidak melahirkan ilmu tentang hubungan antarmanusia. Karena hubungan antarmanusia dan hubungan antarmanusia merupakan entitas yang berbeda. Tentu saja Lovology membedah Human Relationship sebagai kajian utamanya dengan memainkan fungsi filsafat, “clarifying Concept”, yang dimulai dengan berpikir kritis hingga melahirkan Lovology dan Trilogy of Lovology sebagai poiesis , bukan hanya sebagai novelty .

GOLDEN RELATIONSHIP SYNDROME (GRS)

Dalam Lovology, Golden Relationship Syndrome (GRS) pertama kali diterbitkan oleh Bara Susanto. Seorang Lovolog dan Founder dari Lovology.

Dalam perspektif Lovology, Golden Relationship Syndrome (GRS) adalah fase awal dalam Lovology Life Circle yang ditandai dengan euforia emosional yang intens, di mana individu mempersepsikan relasiannya berada dalam kondisi "Kesempurnaan Mutlak". Fase ini merupakan masa kebersamaan kebersamaan di mana seluruh aspek hubungan tampak harmonis tanpa cela.

Golden Relationship Syndrome (GRS)   merupakan fase yang indah namun berbahaya karena sifat yang menipu. Lovology hadir bukan untuk menghilangkan masa keemasan ini, melainkan untuk membekali individu dengan Mitigasi Relasian agar saat kurva kesempurnaan itu turun, individu tidak terjatuh dalam depresi atau agresi, melainkan mendarat pada pemahaman relasian yang realistis dan berpura-pura.

 

1. Halusinasi Relasian & Efek Dunning-Kruger

Secara kognitif, GRS bekerja mirip dengan Dunning-Kruger Effect. Pada masa ini, individu berada di puncak "Mount Overconfident" dalam hubungan. Mereka mengalami Halusinasi Relasian , yaitu sebuah keyakinan kognitif yang distingtif bahwa:

  • The Immortal Illusion: Keyakinan bahwa kebersamaan ini akan bertahan selamanya dalam kondisi yang sama bertahan tanpa ada penurunan kualitas.
  • Halusinasi Mitra Terbaik: Halusinasi bahwa pasangan adalah sosok terbaik dan paling kompeten di dunia, sekaligus keyakinan bahwa dirinya adalah pasangan terbaik yang pernah ada.
  • Pengetahuan Rendah, Keyakinan Tinggi: Individu memiliki pengetahuan yang minim tentang realitas pasangan (Pengetahuan Khusus), namun memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi terhadap masa depan relasian.

2. Kurva Lovology: Dari Puncak Keemasan menuju Realitas

Lovology memandang GRS sebagai titik awal sebuah kurva. Setelah mencapai puncak halusinasi keemasan, kurva tersebut secara alami akan mengalami penurunan (penurunan) seiring dengan berjalannya waktu dan interaksi yang lebih mendalam. Keindahan yang sebelumnya dianggap “statis” mulai bergeser menjadi dinamis dan pemandangan retakan-retakan realitas.

3. Transisi Ketidaksempurnaan (Spektrum Ketidaksempurnaan)

Dalam Lovology, pasca-berakhirnya masa GRS, relasian akan memasuki spektrum ketidaksempurnaan. Keberhasilan sebuah hubungan ditentukan oleh bagaimana Relationship Intelligence mengelola transisi ini:

  • Fase Ketidaksempurnaan yang Termaafkan (Ketidaksempurnaan yang Dapat Dimaafkan): Ini adalah tahap awal penurunan kurva. Karakter asli, kebiasaan buruk, dan kekurangan pasangan mulai muncul ke permukaan. Namun, karena cadangan Love dan Hasrat dari masa GRS masih cukup tinggi, individu cenderung melakukan kompromi. Ketidaksempurnaan ini masih dianggap sebagai bumbu relasian yang dapat ditoleransi.
  • Fase Ketidaksempurnaan yang Tidak Termaafkan (Ketidaksempurnaan yang Tak Termaafkan): Jika Human Relationship Skill gagal diterapkan saat kurva terus menurun, relasian akan masuk ke titik kritis. Pada tahap ini, kekurangan pasangan atau perbedaan prinsip tidak lagi dipandang sebagai hal yang bisa ditoleransi. Halusinasi emas telah hilang sepenuhnya, menyisakan kenyataan pahit yang memicu sisa konflik, yang jika tidak dikelola melalui Management yang tepat, akan bermuara pada Post Relationship Syndrome .

Kesimpulan Lovology: GRS adalah fase yang indah namun berbahaya karena sifatnya yang menipu (Deceptive Golden Era). Lovology hadir bukan untuk menghilangkan masa keemasan ini, melainkan untuk membekali individu dengan Mitigasi Relasian agar saat kurva kesempurnaan itu turun, individu tidak terjatuh dalam depresi atau agresi, melainkan mendarat pada pemahaman relasian yang realistis dan berpura-pura.

POST FATHER SYNROME (PFS)

Dalam Lovology, Post Father Syndrome (PFS) pertama kali diterbitkan oleh Bara Susanto. Seorang Lovolog dan Founder dari Lovology.

Dalam perspektif Lovology, Post Father Syndrome (PFS) adalah sebuah kondisi disorientasi identitas dan gangguan mental-emosional yang dialami oleh Bapak pasca-perpisahan (perceraian atau kriteria fisik), yang ditandai dengan perasaan kehilangan peran, akses, dan interaksi yang mendalam dengan anaknya.

Konsep Post Father Syndrome (PFS) dalam kerangka Lovology adalah salah satu bentuk residu emosional yang paling dalam, karena menyentuh aspek identitas diri dan eksistensi manusia sebagai orang tua. Khususnya yang terjadi pada bapak pada pada pada.

PFS bukan sekedar rasa rindu biasa, melainkan sebuah "Identity Dissolution" (pengikisan identitas). Dalam Lovology, gelar "bapak" bukan hanya status sosial, melainkan sebuah Functional Identity yang memberikan makna pada Life Circle seorang pria. Ketika akses terhadap anak terputus, individu merasa kehilangan instrumen utama untuk menjalankan fungsi Relationship Goals -nya sebagai orang tua.

Karakteristik Utama Pasca Sindrom Ayah:

  1. Hilangnya "Call-Sign" (Hilangnya Panggilan): Penderita PFS mengalami trauma akustik dan eksistensial ketika ia tidak lagi mendengar panggilan "Bapak" secara langsung. Hilangnya suara panggilan ini dianggap sebagai "kematian fungsi" dalam struktur kecerdasan relasiannya.
  2. Klaster Terputusnya Orang Tua (Gangguan Kognitif & Afektif):
    • Kognitif: Munculnya pikiran obsesif mengenai kesejahteraan anak di bawah pengasuhan pihak lain dan ketakutan akan dilupakan (Fear of Being Erased).
    • Afektif: Perasaan hampa yang ekstrem (Void Syndrome), rasa bersalah yang tidak proporsional, hingga depresi akibat hilangnya sosok yang menjadi objek utama dalam hubungan bapak dan anak.
  3. Behavioral Displacement (Penyimpangan Perilaku): Manifestasi perilakunya dapat berupa penarikan diri dari lingkungan sosial karena merasa “gagal sebagai Bapak” atau sebaliknya, melakukan agresi melalui konflik aset dan hukum sebagai bentuk kompensasi atas rasa tidak memberdayakannya sebagai bapak.

Dalam Lovology, PFS yang tidak termitigasi mengakibatkan Melemahnya Daya Koping. Seorang ayah yang mengalami PFS seringkali kehilangan motivasi produktivitas karena “sumber hasrat” (anak) tidak lagi berada dalam jangkauan radar relasiannya. Hal ini dapat berakhir pada:

  • Isolasi Pasca Hubungan: Mengisolasi diri karena rasa malu atau luka identitas.
  • Duka yang Berlebihan: Duka yang berkepanjangan karena ia harus berkabung atas anak yang sebenarnya masih hidup, namun "mati" secara akses relasian.

Sebagai solusinya, Lovology menekankan perlunya Restorasi Identitas Ayah. Meskipun secara fisik terpisah, individu harus dibantu untuk membangun “Virtual Fatherhood” atau penguatan Human Relationship Skill yang tetap menempatkan peran kebapakan sebagai nilai moral dalam dirinya, sehingga ia tidak terjebak dalam ketahanan negatif yang merusak masa depan anak maupun dirinya sendiri.


POST RELATIONSHIP BULLYING (PRB)

Dalam Lovology, Post Relationship Bullying (PRB) pertama kali dipublikasikan oleh Bara Susanto. Seorang Lovolog dan Founder dari Lovology.

Dalam perspektif Lovology, Post Relationship Bullying (PRB) merupakan wujud eksternal dari Post Relationship Syndrome yang bersifat destruktif. PRB didefinisikan sebagai serangkaian tindakan intimidasi, melontarkan, atau menegakkan kekuasaan relasian yang dilakukan secara sengaja oleh satu pihak terhadap mantan pasangannya setelah berakhirnya sebuah relasian.

Post Relationship Bullying bukan sekadar “gangguan mantan”, melainkan sebuah bentuk agresi relasian yang sistematis.

Secara teknis, PRB terjadi karena kegagalan individu dalam melakukan Liquidation of Emotion (penuntasan emosi), sehingga ia menggunakan agresi sebagai instrumen untuk mempertahankan kendali atau melampiaskan balas dendam atas “investasi hasrat” yang dianggap gagal.

PRB dalam Lovology diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk serangan:

  1. Digital/Cyber ​​​​Bullying: Penggunaan platform digital untuk merusak reputasi mantan pasangan, seperti penyebaran detail privasi ( doxing ), kontaminasi nama baik di media sosial, atau pengiriman pesan teror secara terus-menerus.
  2. Sabotase Sosial: Upaya sistematis untuk mengisolasi korban dari lingkaran pertemanan, keluarga, atau lingkungan profesional dengan menyebarkan narasi negatif atau fitnah terkait perilaku korban selama hubungan berlangsung.
  3. Pemerasan Emosional: Ancaman untuk menyakiti diri sendiri atau membocorkan rahasia tertentu guna memaksa mantan pasangan tetap berada dalam pengaruh atau komunikasi dengan pelaku.
  4. Proximal Bullying: Melibatkan pihak ketiga (teman atau keluarga) sebagai perpanjangan tangan untuk melakukan intimidasi, yang dalam Lovology disebut sebagai manipulasi jaringan relasian.

Dampak pada Korban: PRB mengakibatkan kerusakan pada Ketangguhan Relasian korban, yang memicu gangguan mental lebih lanjut seperti kecemasan akut, hilangnya rasa aman, hingga trauma berkepanjangan yang menghambat korban untuk memulai siklus Lovology Life Circle yang baru.

Perspektif Lovology: Dalam konteks Lovology, PRB dipandang sebagai Kriminalitas Hasrat . Pelaku PRB menunjukkan rendahnya Relationship Intelligence karena tidak mampu membedakan antara “hak milik atas kenangan” dan “hak asasi individu mantan pasangan”. Penanganan PRB seringkali memerlukan intervensi hukum karena tindakannya telah melampaui batas etika relasian dan masuk ke dalam ranah pelanggaran hak privasi serta harga diri manusia.

POST RELATIONSHIP SYNDROME (PRS)

Dalam Lovology, Post Relationship Syndrome (PRS) pertama kali dipublikasikan oleh Bara Susanto. Seorang Lovolog dan Founder dari Lovology. 

Dalam perspektif Lovology, Post Relationship Syndrome (PRS) dideskripsikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk melakukan transisi secara sehat dari fase In-Relationship ke fase Post-Relationship . Kondisi ini mencerminkan kegagalan Self-Management dalam masa transisi menuju siklus baru setelah berakhirnya sebuah relasian. Post Relationship Syndrom merujuk pada pola perilaku atau fungsi mental yang menyimpang, dimana sindrom ini tidak selalu dianggap sebagai kerusakan fisik, melainkan pola respons maladaptive, depresi dan kegagalan pengendalian hubungan. Dari relasian menjadi relasi atau bahkan tidak memiliki hubungan apapun.

Sebagai sebuah "gejala klaster", PRS bermanifestasi menjadi gangguan mental dan kejiwaan yang menyerang tiga domain fungsi utama manusia:

1.    Gangguan Afektif (Rasa): Terjadinya disregulasi emosi yang ekstrem, ditandai dengan penurunan harga diri secara drastis (low self-harga diri), kesedihan patologis yang mendalam, hingga perasaan hampa yang berisiko pada depresi klinis. Individu kehilangan kendali atas stabilitas emosionalnya, sehingga daya koping melemah secara signifikan.

2.    Gangguan Kognitif (Pikiran): Terjadinya distorsi kognitif yang memicu “obsesi intrusif” terhadap mantan pasangan. Pikiran individu terjebak dalam pola sirkular (berputar-putar) yang menghambat kemampuan analisis dan diagnosis yang objektif. Hal ini mengakibatkan kegagalan dalam memproses data masa lalu hingga menjadi sejarah yang tidak tuntas.

3.    Gangguan Perilaku (Perilaku): Manifestasi nyata dari gangguan afektif dan kognitif yang memicu perubahan perilaku menyimpang, seperti gangguan tidur (insomnia), disfungsi sosial (penarikan diri dari lingkungan produktif), hingga perilaku impulsif yang destruktif. Termasuk hasuk, bullying hingga kekerasan fisik.

Apabila PRS bereskalasi menjadi resiliensi negatif, dampaknya akan meluas pada tindakan-tindakan yang merugikan orang lain, seperti Post Relationship Bullying, Economic Residue Dispute (konflik perebutan aset), hingga Post Relationship Abuse. Tindakan ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari yang tidak berakibat hukum hingga yang berakibat serius pidana, seperti kompak berat hingga pembunuhan (Relationship Homicide).

Dalam ekosistem Lovology, PRS dipandang sebagai pelemahan Moralitas Hasrat dan Relationship Intelligence, yang memerlukan intervensi terukur untuk memulihkan kembali fungsi mental individu agar mampu melanjutkan Life Circle selanjutnya.

Jumat, 25 Mei 2018

APA ITU KONSULTASI LOVOLOGY? - Bersama Klinik Lovology Indonesia 081221900599 WA

Klinik Lovology - Perencana Pernikahan dan Perceraian Terbaik Di Indonesia

Konsultasi lovology adalah tindakan diagnostik yang dilakukan oleh seorang lovolog untuk memahami berbagai masalah love and relationship yang dialami oleh pasien. Termasuk juga proses untuk menggali hubungan sebab-akibat atas sumber masalah, masalah yang terjadi dan berbagai pengaruhnya secara sistematis dan logis.
Tujuan konsultasi lovology ini untuk mencapai zona kebahagiaan dan keharmonisan dalam love and relationship. Baik secara pribadi, maupun bersama pasangan dalam kebersamaan.
Konseling lovology sepertinya menjadi sangat wajib dilakukan oleh siapapun. Baik pasangan pra nikah, dalam pernikahan maupun yang akan bercerai. Karena penyakit modern yang paling berat dan belum ada obatnya adalah penyakit akibat kegagalan love and relationship.

Apa Saja Yang Dibahas Dalam Saat Konseling Lovology?
Ada 4 hal yang akan dibahas secara terpisah namun memiliki hubungan sebab-akibat yang erat. Keempat hal ini adalah 4 pilar lovology yang memiliki arti dan tujuan yang berbeda. Yaitu;
  1. Love atau percintaan
  2. Relationship atau kebersamaan
  3. Goals atau berbagai tujuan dari love and relationship
  4. Management atau ilmu mengelola love and relationship goals
Mengapa Lovology Bisa Begitu Sistematis Dan Logis?
Tentu saja karena lovology adalah ilmu yang fokus untuk mempelajari tentang love and relationship goals management. Atau ilmu yang mempelajari tentang manajemen percintaan dan kebersamaan serta berbagai tujuan atas keduanya. Padahal sebelumnya, love and relationship selalu dianggap sebagai masalah yang paling rumit.

Mengapa Konseling Lovology Sangat Sistematis?
Karena semakin sistematis, setiap proses untuk menggali potensi, masalah dan solusi yang tepat akan menjadi semakin mudah. Tidak berbelit-belit. Sehingga obat untuk masalah yang dihadapi pun akan cepat ditemukan. Tidak hanya solusi terbaik namun juga bagaimana menyikapi berbagai masalah itu dengan bijaksana. Agar tidak banyak berpengaruh pada berbagai aspek lain secara sistematis.
Misalnya, seseorang yang terlalu fokus pada masalah love and relationship dipastikan akan terjadi penurunan produktivitas kerja. Atau bahkan tidak mampu bekerja sepenuhnya saat terlalu fokus pada masalah. Karena memang pada akhirnya masalah love and relationship juga mempengaruhi aspek finansial.
Sehingga konseling lovology memberikan jalan agar bisa untuk menyelesaikan masalah tanpa mempengaruhi aspek yang lain.

Mengapa Konseling Lovology Sangat Logis?
Setiap orang yang sedang bermasalah sebenarnya memiliki satu masalah terbesar yang ingin dipecahkan. Dan itu bukan tentang solusi. Tetapi tentang jawaban logis atas penyebab terjadinya masalah. Itu sebabnya kita akan selalu bertanya, “mengapa hal ini-itu terjadi”, saat terjadi masalah. Bukan tentang bagaimana cara atau solusi menyelesaikannya. 
Inilah poin awal yang sangat penting dalam konseling lovology. Yaitu untuk bisa memberikan jawaban secara logis tentang penyebab terjadinya masalah. Lalu menarik hubungan sebab-akibatnya secara sistematis. Mengingat jawaban yang logis ini sungguh sangat menenangkan agar bisa memulai proses selanjutnya.
Karena perasaan tidak tenang, tidak bahagia dan kegalauan itu timbul karena belum terjawabnya sumber penyebab dasar sebuah masalah. Misalnya tentang mengapa ada pertemuan dan perpisahan, ada cinta dan lalu menjadi benci, ada kesetiaan dan perselingkuhan, ada pernikahan dan mengapa terjadi perceraian.

Menurut Anda mengapa?

Jika tidak tahu jawabannya, silahkan melakukan konseling di Klinik Lovology Indonesia bersama pasangan atau sendiri juga boleh.