Lovology atau Lovologi adalah sebuah ilmu baru yang spesifik mempelajari dan mengajarkan tentang Hubungan Manusia atau relasian manusia. Dipublikasikan oleh Bara Susanto, seorang lovolog, setelah melakukan penelitian selama 14 tahun.
Relationship yang dalam Lovology diterjemahkan sebagai relasian. Salah satu istilah baru yang mulai dipublikasikan. Relasian menjadi wujud nyata kelekatan kebersamaan manusia yang selama ini hanya melibatkan ranah afektif (hasrat, niat dan harapan) dan behavioral (perilaku seksual), tanpa melibatkan kognitif. Karena memang sebelumnya tidak ada keilmuan yang spesifik sebagai episteme terkait Human Relationship sesuai usia dan kebutuhannya. Secara genealogi keilmuan, hal ini dapat dibuktikan terjadi bahkan sejak era manusia pertama di bumi, era keemasan filsafat yunani, bahkan hingga hari ini.
Kegelisahan inilah yang menjadi salah satu alasan kehadiran Lovology sebagai solusinya dalam bidang keilmuan yang spesifik untuk hubungan antarmanusia berdasarkan penelitian selama 14 tahun.
Meskipun Lovology membahas relasian, tujuan utamanya bukanlah tentang kebahagiaan yang bersifat pribadi dan keharmonisan yang bersifat kebersamaan. Karena bahagia dan harmonis dalam kedamaian adalah dampak yang dapat sewaktu-waktu berubah. Keduanya tidak kekal dan tidak juga berkelanjutan, namun dapat diupayakan ketahanannya. Khususnya tentang keharmonisan yang melibatan kebahagiaan pasangan. Saat kebahagiaan pasangan menurun, keharmonisan juga akan menurun kualitasnya. Namun kebahagiaan, ketenangan dan ketenangan secara jiwa pribadi harus selalu terjaga sebagai bagian dari kesehatan yang indah. Inilah fungsi Lovology.
Sekali lagi, Lovology bukan ilmu untuk mencapai kebahagiaan dan keharmonisan. Keduanya hanyalah dampak yang dapat dicapai dari sebuah proses yang dapat diajarkan secara tersistematisasi dalam Lovology. Bukan juga ilmu untuk meningkatkan kemampuan seksual.
Secara sekilas, meskipun tidak saling berhubungan, dapat dikatakan jika Lovology merupakan penyempurna dari berbagai keilmuan barat dan eropa tentang Human Relationship. Termasuk menyempurnakan kegagalan psikoseksual Sigmun Freud yang diterjemahkan dan diajarkan. Karena terlalu fokus pada pepelampiasan hasrat dan kepuasan jasa sebagai pelacur relasian.
Setelah melewati 14 tahun penelitian, landasan dan tujuan utamanya adalah pengetahuan eksplisit Lovology untuk meningkatkan pengetahuan tacit yang spesifik terkait hubungan manusia. Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan formal, terdokumentasi, tersistematisasi dan mudah diajarkan tanpa interaksi langsung. Sedangkan pengetahuan tacit adalah pengetahuan yang sangat personal, wawasan, pengetahuan tak kasat mata atau “know how” yang tertanam dalam pikiran individu sehingga sulit untuk mengajarkan interaksi secara langsung.
Ringkasnya, Lovology berasal dari tacit pengetahuan tentang Hubungan Manusia yang diupayakan untuk dideskripsikan secara sederhana, sistematis, kohern menjadi explisit pengetahuan agar mudah diajarkan untuk membangun pengetahuan tacit tentang Hubungan Manusia bagi siapa pun yang mempelajarinya. Berasal dari tacit, menjadi eksplisit, untuk membangkitkan kesadaran pengetahuan tacit.
Pengetahuan eksplisit sebagai keterampilan kognitif, pengetahuan tacit sebagai keterampilan afektif, untuk menyempurnakan perilaku seksual yang berilmu, bermoral dan tanpa ampun.
Lovology memiliki fungsi transformatif sebagai sebuah keilmuan yang spesifik tentang Hubungan Manusia untuk meningkatkan kemampuan mitigasi, daya koping dan resiliensi secara afektif, kognitif dan behavioral melalui analisis kekuatan dan diagnosis hingga prognosis pengiriman yang mendekati presisi. Kemampuan ini menjadi salah satu bagian dari Relationship Intelligence - RI yang terwujud sebagai Human Relationship Skill. Kebahagiaan, keharmonisan dan kedamaian hanyalah dampak yang kualitasnya dan kesejahteraannya setara dengan tinggi rendahnya RI.
Jika kebersamaan dan keharmonisan mampu dimitigasi perubahannya, setidaknya daya koping akan dapat mempertahankan kebahagiaan dan ketenangan hidup secara pribadi. Sebagai bagian dari kesehatan yang indah. Untuk kemudian bangkit dengan memanfaatkan kekuatan ketahanan yang telah dipersiapkan sejak awal.
Meskipun saat ini Lovology masih berstatus sebagai proto-science, Lovology sudah dapat digunakan sebagi dasar motode untuk menganalisis, mendiagnosis dan prognosis hingga mampu melahirkan kemampuan mitigasi, daya koping dan resiliensi. Termasuk sebagai metode mendekonstruksi paradigma tentang hubungan antarmanusia hingga menjadi lebih rasional untuk mengenali, mengelola, mengendalikan dan memodifikasinya sesuai usia dan kebutuhan. Memulai perubahan baru terhadap berbagai mitos tentang Cinta dan Hubungan Kemanusiaan menjadi logo yang mudah untuk dipelajari dan diajarkan secara universal.
Lovology berasal dari kata Lov atau Love dan ology atau logos
(bahasa Yunani) yang berarti ilmu. Secara etimologi nama yang lebih tepat sebenarnya adalah Philology atau Filologi . Berasal dari philos
(bagian dari filsafat) yang berarti cinta dan ology atau logos
(bahasa Yunani) yang berarti ilmu. Namun Filologi tidak dapat digunakan karena telah menjadi cabang ilmu tentang studi yang mempelajari manuskrip atau teks sastra kuno. Sehingga Lovology sebagai alternatif istilah yang terpublikasi.
Lovology pertama kali dipublikasikan secara terbatas oleh Bara Tri Susanto, seorang lovolog pertama dan penemu Lovology pada tahun 2019 setelah melakukan penelitian selama 10 tahun. Hingga tahun 2024, penelitian seumur hidup tentang Lovology telah berlangsung selama 14 tahun. Bara Susanto juga mendirikan Lovology Institute sebagai Lembaga penelitian dan pengembangan Cinta dan Hubungan Kemanusiaan.
Lovology terdiri dari empat ajaran utama tentang “Love and Relationship Goals Management” dapat disebut juga sebagai Lovology Lifecircle yang menjadi landasan dari ajaran Lovology dan semua pengetahuan yang terkait. Terdiri dari;
1.
Ajaran tentang Cinta
2.
Ajaran tentang Hubungan
3.
Ajaran tentang Goals
3.1. Ajaran tentang tujuan pribadi
3.2. Ajaran tentang tujuan relasian
4.
Ajaran tentang Manajemen
4.1. Ajaran tentang manajemen cinta
4.2. Ajaran tentang manajemen hubungan
4.3. Ajaran tentang manajemen tujuan pribadi
4.4. Ajaran tentang manajemen tujuan hubungan
Dasar penentuan materi pengajarannya Merujuk pada Lovology Model sebagai peta berpikir dari Lovology yang terdiri dari;
-
4 Bab Ajaran Lovologi
-
20 Sub Bab Ajaran Lovologi
-
101 Pokok Bahasan Ajaran Lovologi
-
5050 Sub Pokok Bahasan Ajaran Lovologi
Hingga saat ini, Lovology menjadi satu-satunya metode untuk melahirkan kecerdasan yang sesuai untuk hubungan antarmanusia, yaitu Relationship Intelligence - RI . Menjadikan RI dirancang menjadi alat berpikir yang paling sesuai untuk hubungan antarmanusia, khususnya jika dibandingkan IQ, EQ dan RI. Lovology menyebutnya sebagai Quad Intelligence, terdiri dari: IQ, EQ, RI dan RI. Kecerdasan sempurna yang lengkap sesuai fungsi yang spesifik. Quad Intelligence menjadi kecerdasan kolaboratif yang dapat digunakan sesuai usia dan kebutuhan.
Untuk selanjutnya Lovology dan RI menjadi kohernsi untuk menghasilkan Human Relationship Skills. Sebagai sebuah kompetensi baru yang kompatibel dengan hubungan antarmanusia secara afektif, kognitif dan behavioral agar dapat berfungsi optimal dengan indikator yang dapat dinilai secara objektif sesuai usia dan kebutuhan.
Ketiganya dipublikasikan sebagai Trilogy of Lovology. Lovology sebagai sebuah ilmu yang spesifik, Relationship Intelligence - RI sebagai sebuah kecerdasan yang sesuai dan Human Relationship Skills sebagai sebuah kompetensi yang kompatibel untuk Human Relationship.
Trilogy of Lovology dideskripsikan sebagai;
1.
Lovology atau Lovologi adalah sebuah ilmu baru (proto-sains) yang spesifik mempelajari dan mengajarkan tentang hubungan antarmanusia atau relasian manusia.
2.
Relationship Intelligence - RI adalah kecerdasan yang sesuai untuk Human Relationship (proto-intelligence) . Dengan keunggulan kemampuan untuk menganalisis, mendiagnosis dan prognosis dalam hubungan antarmanusia. Sehingga mampu melahirkan kesadaran baru yang bermanfaat untuk mitigasi, daya koping dan resiliensi dalam berbagai fase relasian sesuai usia dan kebutuhan. Untuk mengendalikan moralitas secara afektif,
3.
Human Relationship Skills adalah kompetensi baru yang kompatibel dengan hubungan antarmanusia (proto-competency)
secara afektif, kognitif dan behavioral agar dapat berfungsi optimal dengan indikator dari RI yang dapat dinilai secara objektif sesuai usia dan kebutuhan.
Trilogy of Lovology menjadi
poiesis atau objek penciptaan nyata yang dipublikasikan. Dimulai dengan selesai dibukukannya Sexual Intelligence – Sexual Intelligence sebagai buku pertama pada tahun 2016 yang kemudian dirubah menjadi Relationship Intelligence - RI pada tahun 2025 dan terus berkembang hingga menjadi 3 buku yang diterbitkan sebagai Trilogy of Lovology pada tahun 2025. Trilogy of Lovology juga sebagai tranformasi dari kebaruan atau temuan baru yang belum terwujud berdasarkan penelitian selama 9 tahun sejak 2009 hingga 2017.
Lovology dan Trilogy of Lovology menjadi magnum opus atau karya besar dari penemunya, Bara Tri Susanto, setelah melakukan penelitian selama 14 tahun.
Lovology ibarat sedang mengisi ruang kosong ilmu pengetahuan yang spesifik tentang Cinta dan Hubungan Manusia. Lovology juga bisa menjadi solusi preventif terbarukan. Karenanya hingga kini belum ada ilmu yang spesifik sebagai pembanding yang mempelajari dan mengajarkan tentang Cinta dan Hubungan Kemanusiaan.
Hubungan antarmanusia akan selalu berkaitan dengan 2 hal, yaitu cinta dan hubungan atau cinta dan relasian. Cinta berkaitan dengan hubungan Intra hormonal dan intra seksual, sedangkan relasian menjadi perubahan hubungan Inter hormonal dan inter seksual
Lovology menjadi jalan keserasian dari cinta dan relasian. Cinta sebagai ruh kehidupan (akal ruhani), kebijaksanaan adalah kebijaksanaan (akal jiwa) dan jasad (akal materiil) sebagai rumah dari perilaku. Termasuk juga keserasian antara akal teori dan akal praktik.
Secara filosifis, Lovology merupakan kritik Bara Susanto terhadap filsafat yang hanya melahirkan kebijaksanaan dengan berbagai pengetahuan turunannya. Secara etimologi, Filsafat berasal dari philos yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Namun sejak era pra Socrates, Thales serta para filsuf setelahnya, bahkan hingga kini, filsafat hanya sedikit melahirkan pengetahuan tentang cinta dan tidak melahirkan ilmu yang spesifik tentang Cinta dan Hubungan Manusia. Filsafat lebih dimaksimalkan fungsinya untuk melahirkan berbagai ilmu dan kebijaksanaan untuk makhluk, alam semesta dan Tuhan.
Filsafat memang telah berjasa melahirkan berbagai ilmu tentang hubungan antarmanusia namun tidak melahirkan ilmu tentang hubungan antarmanusia. Karena hubungan antarmanusia dan hubungan antarmanusia merupakan entitas yang berbeda. Tentu saja Lovology membedah Human Relationship sebagai kajian utamanya dengan memainkan fungsi filsafat, “clarifying Concept”, yang dimulai dengan berpikir kritis hingga melahirkan Lovology dan Trilogy of Lovology sebagai poiesis , bukan hanya sebagai novelty .